5/05/2020

Belajar

Belajar merupakan suatu aktifitas kita sebagai manusia dalam rangka menambah ilmu atau pengetahuan sehingga kita merasa nyaman dalam mengarungi kehidupan. Karena orang yang tidak belajar dia akan gelisah dalam menghadapi realita kehidupannya. Belajar menjadikan diri kita semakin banyak wawasan dan kemudian akan bersikap dewasa dalam menyikapi berbagai persoalan dalam hidup. Orang yang malas belajar dalam hidupnya dia kelak akan menjadi manusia yang tertindas. Betapa banyak contoh di hadapan kita dampak karena dia malas untuk belajar. Contoh yang paling nyata dari malas belajar yaitu dia hidup tidak punya prinsip, dan tujuan yang jelas. Belajar tidak mesti di sekolah saja. Malah justru belajar di luar sekolah itu lebih banyak menambah wawasan pengetahuan kita. Seperti kita ketahui bahwa dalam ajaran islam, wahyu pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau di gua Hira adalah perintah Iqra (membaca, meneliti, mengeksperimen, mengamati, mencermati, dll). Konsep tersebut (Iqra) merupakan suatu konsep dari Allah SWT selaku Tuhan Pencipta Alam semesta untuk membangun peradaban di dunia. Kalau kita sungguh-sungguh melihat, juga mengamati peradaban-peradaban yang sekarang ini, seperti berkembangnya alat-alat tekhnologi canggih, munculnya gedung-gedung pencakar langit, dll kesemuanya itu adalah dari hasil belajar. Dari sini kita bisa faham bahwa untuk benar-benar menjadi Khalifatu Fiil Ardh (pengganti Tuhan di bumi) ini adalah dengan kesungguhan kita dalam belajar.
Untuk belajar kita juga jangan hanya mengambil dari orang yang lebih tua saja, bisa jadi justru banyak ilmu atau ucapan yang keluar dari mulutnya manusia yang lebih kecil usianya dari kita. Dan itu mengandung pengetahuan yang sangat berharga.
Aktifitas belajar sendiri adalah di mulai dari alam Kandungan sampai keliang lahat. Oleh karenanya jangan sampai kita menunda-nunda untuk belajar. Sebetulnya tidak ada kata terlambat dalam belajar. Walaupun pepatah mengatakan bahwa belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu dan belajar diwaktu besar ibarat mengukir di atas air.
Jadi janganlah kita malas untuk belajar, kapan dan dimana saja.

5/02/2020

Statemen Yang Menyakitkan Hati

Kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan hati masih sering dilontarkan dari satu golongan islam kepada yang lainnya.
Kalimat-kalimat itu kita sebutkan disini dengan terus terang, dan mohon maaf atas keterus terangan ini, yaitu seperti : "Kyai Kampungan, Kyai Bodoh, Kyai berfikir sempit hanya tahu ilmu agama saja, harus belajar dooong..." ini keluar dari satu fihak, dan dari fihak lainnya : "Mujtahid gadungan, ngaku pinter, tidak tahu etiket, seperti katak dalam tempurung, merasa paling jagoan sendiri". Kalimat-kalimat seperti itu hanya bisa di ucapkan dengan penuh emosi. Yang pasti orang-orang mencetuskan kata-kata yang menyakitkan hati itu adalah bukan orang-orang cendikiawan. Kita menilai indikator istimewa kecendikiawanan ialah bahwa logikanya mampu menguasai emosinya. Kekuatan berfikir yang dominan dalam dirinya. Untuk menentukan skala prioritas dalam menangani permasalahan yang kita hadapi ialah kita tentukan dari segi dampaknya terhadap kehidupan bernegara. Kerukunan antar agama-agama yang berbeda yang lebih penting, ataukah kerukunan antar golongan dalam satu agama. Kita melihat keduanya adalah masalah yang harus di selesaikan, tetapi mungkin fihak yang menyelesaikannya yang berbeda. Kita serahkan saja penyelesaian masalah antara golongan dikalangan umat islam kepada yang mulia para Alim Ulama dan yang terhormat para cendekiawan muslim.
Kita berdiri di tengah dengan jarak yang sama antara mereka dengan kita. Bahkan kita dapat menilai bahwa perbedaan pendapat itu bukan masalah, malah sebaliknya, adalah sebagai indikator bahwa mereka benar-benar hidup dan dinamis. Karena "Perbedaan pendapat para Ulama itu sebagai Rahmat". Penyelesaian yang kita inginkan bukan supaya mereka mempunyai pendapat yang sama, karena ini tidak mungkin terjadi. Bisa saja terjadi, tidak ada pendapat yang berbeda, semuanya sama, yaitu dengan cara yang paling mudah, kebebasan berfikir kita coret. Tetapi ini tidak dikehendaki oleh siapapun. Yang paling penting ialah masing-masing menghindari mengeluarkan statemen yang mungkin menyakitkan hati.

Penilaian terhadap Cendikiawan Muslim

Pemikir-pemikir islam berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membantah pendapat-pendapat orientalis yang menyudutkan islam.
Antara lain dikatakan bahwa islam sampai sekarang masih terus semakin meluas di benua afrika dan pada bangsa-bangsa yang masih terbelakang. Ditengah pemikir-pemikir islam berusaha untuk membuktikan bahwa islam dan ilmu pengetahuan itu paralel dan saling mendukung.
Dikalangan umat islam sendiri, yang ini mungkin kekeliruan yang tidak di sengaja, hampir saja dapat disimpulkan bahwa islam dan kebodohan itu cocok dan sejajar. Yaitu beranjak dari penilaian terhadap para cendikiawan muslim dari segi ibadahnya. Penilaian itu dapat dirumuskan demikian : "Dia orang pandai dan berpengetahuan luas tidak melakukan ibadah dengan baik. Shalat hampir dilakukan di akhir waktu, tidak pernah berdzikir, selalu menganggap enteng terhadap hukum islam. Tetapi ia petani dikampung ternyata mempunyai keimanan yang kuat dari dia. Shalat dilakukan tepat pada waktunya, berikut sembahyang sunnah qobliyah dan ba'diyahnya. Berpeci rapih bila menghadap Tuhan". Penilaian semacam ini dapat kita terima sebagai suatu fakta yang kemungkinan besar benar adanya. Tetapi penilaian kita lain terhadap seorang muslim, yaitu bukan hanya di lihat dari segi ibadahnya saja. Sebab fakta itu apabila kita terima, berarti kita menyetujui bahwa islam itu cocok untuk orang bodoh. Karena sebenarnya perbedaan antara petani dan cendikiawan itu mengenai keimanannya hanya Allah yang mengetahui. Karena manifestasi keimanannya yang berbeda. Imannya mungkin sama dan kemungkinan besar cendikiawan yang lebih kuat. Kemampuan seorang petani di kampung manifestasi keimanannya adalah dengan sesuatu yang dimampuinya, dengan sesuatu yang mudah di tampilkan, yaitu cukup dengan belajar syarat rukunnya wudhu dan shalat saja, kemudian mengikuti majelis ta'lim seminggu sekali, lalu dia lakukan shalatnya. Kemudian semakin kuat dan kokoh keimanannya. Kelakuan sehari-hari semakin baik dengan orang-orang sekampungnya, "karena shalat itu bisa mencegah orang dari perbuatan yang keji dan jahat". Seorang cendikiawan selalu sibuk menekuni ilmu pengetahuannya, menghadiri seminar dimana-mana, mempersiapkan makalah, mengajar dan sebagainya. Sehingga waktunya banyak tersita untuk kegiatan-kegiatan ilmiyah. Tetapi apakah mengembangkan ilmu pengetahuan yang akan memajukan bangsa Indonesia, memakmurkan, mencerdaskan dan mengangkat martabat bangsa Indonesia di forum-forum Internasional bukan termasuk ibadah...!!??, bahkan ibadah semacam inilah yang akan mendapat kredit poin yang lebih banyak seperti yang di gambarkan al-qur'an. Kita menilai bahwa kedua belah fihak mengandung kebenaran, tetapi yang paling baik ialah kekurangan yang ada di kedua belah fihak bisa di perbaiki. Si petani kampung harus dirangsang supaya semangat membaca dan belajar terus sampai masuk liang kubur, dan si cendikiawan mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang khusyu sampai ajalnya di cabut. Sehingga seorang muslim dapat menampilkan prestasi ilmu pengetahuan dan ibadahnya secara seimbang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Memberkahi mereka semua.

5/01/2020

Ilmu dan Ibadah sebagai Manifestasi Keimanan

Pada umumnya tolak ukur yang di pakai untuk menilai muslim adalah dititik beratkan kepada ibadah dalam pengertian yang khusus, yaitu shalat "barangsiapa yang mendirikan shalat, berarti telah mendirikan agama. Dan barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti telah menghancurkan agama", mengeluarkan zakat, melakukan puasa pada bulan romadhon dan menunaikan ibadah haji. Setelah seseorang menyatakan keyakinannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka orang itu berkewajiban menjalankan shalat, zakat dan naik haji jika mampu. Inilah yang dinamakan rukun islam yang lima. Tidak salah, rukun islam itu dijadikan sebagai tolak ukur untuk menilai seorang yang baik. Tetapi untuk kehidupan dizaman modern ini belum cukup seorang muslim diukur hanya dengan rukun islam. Karena islam menurut pemahaman kita adalah guidance seorang muslim dalam meniti kehidupan didunia ini, mencakup kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan anak istri, dengan guru, murid, pemimpin, majikan atau dengan pembantu. Tingkahlakunya didalam bermasyarakat dan bernegara dan lain sebagainya. Itu semuanya harus menjadi tolak ukur, terutama penampilan pengetahuannya. Karena semata-mata orang yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu pengetahuan. Sebelum perintah-perintah dalam islam diturunkan, islam mengharuskan manusia agar berilmu dahulu, supaya mampu menerima ajaran islam. Islam berdiri diatas ilmu pengetahuan. Ayat yang pertama kali turun memerintahkan kita "Belajarlah atas nama Tuhan pendidikmu, yang telah mencipta. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Belajarlah karena Tuhanmu maha Murah, yang mengajar dengan pena, mengajar manusia tentang apa yang belum diketahuinya". Malaikat mengaku kalah berdebat dengan Adam (kecuali iblis yang tidak mau menghormati adam karena rasa sombong yang dominan, karena ia diciptakan dari api, sedang adam dari tanah) adalah karena adam ditampilkan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya (terminologi-terminologi dasar ilmu pengetahuan, karena dasar-dasar ilmu adalah mengenal nama-nama benda, fungsinya dan hubungannya dengan yang lain), kemudian di pertemukan dengan malaikat. Allah berfirman Sebutkan kepadaku benda-benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Pertandingan ilmu antara adam dan malaikat diakhiri dengan pengakuan malaikat "maha suci engkau, kami tidak mengetahui selain yang engkau ajarkan kepada kami". Disitulah adam ditampilkan dengan prestasi ilmu pengetahuannya" Hai adam .... beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.

Islam dan Nasionalisme

Kita adalah bangsa Indonesia, kebetulan ada yang beragama islam, kristen, hindu, budha dan lain sebagainya. Kita sekarang telah menjadi bangsa yang merdeka, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita di hargai dan di hormati oleh bangsa-bangsa lain dan kehadiran kita di rasakan mereka. Ini adalah berkat perjuangan bangsa Indonesia seluruhnya. Karena perjuangan pahlawan-pahlawan bangsa kita yang telah mengorbankan jiwa, raga dan harta bendanya untuk kemerdekaan kita.
Agama islam mengharuskan bersyukur, yang mana apabila kita bersyukur maka Tuhan akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Kepada siapakah kita patut bersyukur? Jawabannya tidak lain adalah kepada Allah SWT. Dan kepada pahlawan-pahlawan bangsa Indonesia yang hatinya telah dilimpahi rahmat oleh Tuhan dengan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sangat besar sehingga rela meninggalkan anak istri yang dicintainya, melepaskan harta kekayaan yang mereka kumpulkan dengan keringat, untuk kemerdekaan kita. Kemudian kitapun harus bersyukur kepada pemimpin-pemimpin kita yang dengan tekun bekerja dengan tenaga dan fikiran untuk memakmurkan negara Indonesia. Kemudian juga kepada pahlawan-pahlawan dunia yang telah berjuang membela kemanusiaan. Juga kepada tokoh-tokoh islam yang berdedikasi tinggi untuk mengajarkan kepada kita supaya cinta tanah air, karena cinta tanah air itu adalah manifestasi dari iman.
Sejarah telah mencatat bahwa bangsa Indonesia yang beragama islam telah mengambil bagian yang paling besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Islam mengingkari jasa orang. Bangsa Indonesia yang kebetulan beragama kristen, hindu, budha dan lainnya juga telah ikut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Bahkan yang beragama kristen telah mampu melepaskan ikatan agamanya pada waktu membidik serdadu belanda yang juga beragama kristen. Indonesia adalah tempat tinggal untuk seluruh bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia yang beragama islam dewasa ini, berkat nilai-nilai pancasila yang kita yakini, dapat membuktikan sejarah islam yang menunjukkan toleransi beragama di hormati. Juga ayat-ayat dalam kitab suci al-qur'an telah dikemukakan bahwa islam menghargai dan menghormati agama-agama yang lain. Para cendikiawan muslim telah menunjukkan sikapnya yang baik, telah menunjukkan tindakan-tindakannya yang lues sebagai pernyataan dengan fakta bahwa islam tidak memusuhi agama lain. Juga dari bangsa indonesia yang kebetulan beragama lain dituntut untuk menunjukkan tindakan dan sikap yang luwes pula.
Kita tidak dapat menutup mata terhadap realita yang kita lihat di masyarakat, di berbagai daerah, terkadang masih terjadi sedikit kesalah pahaman atau sesuatu hal yang lainnya antara bangsa Indonesia yang kebetulan berbeda agama. Ada dua macam agama-agama di dunia bila dilihat dari konsepsi dasarnya mengenai umatnya. Yaitu ada agama ekslusif seperti hindu dan yahudi. Agama ekslusif ialah agama khusus untuk umatnya yang tertentu baik dengan batasan ras maupun dengan batasan geografis. Dan kedua adalah agama dakwah yaitu agama islam dan kristen. Disinilah letak masalahnya. Sehingga kita terpaksa mengajukan pertanyaan dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada bangsa Indonesia yang beragama islam, kristen, hindu, budha dan lainnya, yang telah menunjukkan tekad bulat untuk hidup rukun dan damai dibumi indonesia ini. Apakah rasa kecurigaan benar-benar telah hilang di semua fihak, terutama antara agama islam dan agama kristen? Bermula dari pemahaman agama dakwah, yaitu agama yang mengharuskan umatnya untuk menyebar luaskan agamanya, terutama bagi agama islam dan kristen yang sama-sama menyatakan sebagai agama universal dan mewajibkan agamanya. Kemungkinan terjadinya pertikaian antara dua petani yang berebut ladang dapat di kendalikan apabila kedua petani iti bersedia menyatakan sawahnya adalah milik bersama. Disinilah Nasionalisme dari masing-masing fihak harus mendapat prioritas pertama. Nasionalisme harus nampak pada permukaan kita sehari-hari.